Mainan Panggalan Anak di Langgen Kaligawe

Sekitar dua minggu terakhir ini, bocil Langgen Kaligawe sedang ramai memainkan mainan tradisional panggalan. Permainan ini biasa dimainkan oleh bocil-bocil di desa. Musimnya bergantian antara mainan tradisional lainnya dalam setahun.  Kira-kira seperti inilah bentuk Panggalan yang biasa dimainkan oleh bocil Kaligawe Langgen.

Mainan ini biasa dimainkan oleh beberapa anak. Cara mainnya saling diadu antara panggalan satu dengan panggalan lainnya.

Aturan mainnya pun cukup sederhana. Siapa yang panggalannya bertahan putaran paling lama, Dialah yang akan keluar sebagai pemenang. Tentunya gak cuma bertahan putaran tanpa ada halangan ya. Namun, pemain yang urutan berikutnya akan mengadu (bentakan) dengan panggalan yang sedang berputar. Sampai panggalan terakhir yang putarannya paling lama bertahan. Maka, dialah yang akan menang.

Urutan main putar panggalan diurut berdasarkan pemain yang kalah pertama, disusul pemain kalah berikutnya sampai nanti yang terakhir adalah pemain yang menang pada ronde sebelumnya.

Antar pemain akan mengadu bentakan panggalannya dengan panggalan yang sudah dimainkan oleh pemain sebelumnya.

Begitulah kiranya, aturan main sederhana dari mainan panggalan di kaligawe Langgen.

Mainan panggalan biasanya dimainkan oleh bocil-bocil yang berusia kisaran anak kelas 1 SD sampai dengan kelas 9 SMP.

Tapi rata-rata permainan panggalan ini hanya dimainkan oleh anak-anak SD saja. Yang masih seumuran dan masih level sepermainan.

Kalau sedang rame, biasanya permainan panggalan di Langgen Kaligawe dimainkan oelh bocil dari berbagai komplek, main bareng di sini. Bahkan dari desa sebelah pun yang terdekat, ikutan main bareng di sini. Jadi permainan yang biasanya hanya 3-5 anak saja, kali ini bisa sampai 10-15 pemain yang dateng.

Permainan panggalan ini memang lebih seru ketika dimainkan oleh banyak anak. Tingkat permainnya jadi lebih kelihatan kompetisinya antar pemain.

Bocil lagi main panggalan

Bahkan kalau ada pemain yang masih newbie, dia akan mundur degan sendirinya karena bakal jadi babak belur kalau ikutan bermain dengan para bocil level pro.

Permainan ini memang sudah jadi salah satu permainan yang legendaris dari jaman orang tua saya masih kecil samapai sekarang pun ternyata masih bertahan. Walaupun saat ini sudah banyak permainan digital yang bermunculan di smartphone. 

Namaun, bagi beberapa bocil yang bosan main hape terus, permainan tradisional yang lebih nyata akan lebih menarik perhatian. Disamping itu, permainan tradisional jauh lebih nyata pengalamannya dan secara fisik dan tenaga lebih banyak geraknya. Dibandingkan dengan permainan yang ada di hape, hanya bergerak jari-jari dan mulut saja.

Efek samping yang ditimbulkan permainan di hape itu, jauh lebih negatif. Contohnya, kebiasaan ucapan yang negatif lebih mudah terucap ketika bermain di hape, karena lawannya tidak nyata. Jadi ucapan “maki-maki” lebih berani terucap karena gak saling tatap langsung. Bahkan lebih kurang ajarnya, yang dimaki itu orang dewasa atau yang lebih tua darinya.

Beda dengan permainan tradisional yang dimainkan langsung di dunia nyata.

Permainanny akan lebih kondusif, karena yang bermain masih dalam rentang usina yang satu permainan. Masih satu level sekolahnya. Jadi kalaupun ada perkataan kasar yang keluar, itu tidak separah di dunia permainan digital. Karena ada pengendalian secara sosial.

Di samping itu, permainan tradisional jauh lebih berdampak pada perilaku sosial di dunia nyata. Interaksi sosial bisa langsung terjadi di dunia nyata, baik secara lisan maupun secara fisik. Dan itu jauh lebih baik bagi pertumbuhan fisik dan psikologi bagi anak-anak.

Gak bakal jadi bocil ‘ansos’ atau anti sosial. Yang jagonya cuma di kandang (rumah) saja. Klo diajak duel di luar malah ciut nyalinya. Sedangkan anak-anak yang biasa main di luar akan terkendali secara sosial dan itu naluri alami. Jika ada anak yang lebih nakal dan suka main fisik, pasti akan dijauhi. Bagi anak-anak yang gak sudah berkelahi pasti akan mengontrol mulutnya untuk berkata-kata kasar kepada lawan bicara yang jauh lebih kuat atau tua. Karena si bocil tadi pasti sudah tau konsekuensinya jika omongannya bisa menyinggung lawan bicaranya yang lebih kuat atau tua, dia pasti bakalan kena bogem atau minimal sekedar pukulan ringan.

Begitulah kiranya kejadian yang saya amati dari perilaku para bocil-bocil Langgen Kaligawe.

Memang unik. Plus jadi nostalgia jaman masih kecil dulu.

Oke. Sekian dulu ya cerita Mainan Panggalan-nya.

 

Add a Comment

Your email address will not be published.